Kau menggenggamku seperti pasir, semakin erat, semakin kabur
Akulah pasir yang kau ambil, kau simpan dan kau jaga
Namun tempatku di pantai, aku mendamba lautan lepas
Biarkan aku terbawa ombak, menuju samudra luas
Meskipun langkah memorimu membekas di pesisir
Namun jejakmu terhempas ombak, buyar dan hilang dalam sekejap
Susah payah kau mengukir cerita di permukaan
Namun kisahmu lagi-lagi terhapus ombak
Akulah pasir yang tak bisa diam
Aku akan menghilang bersama angin darat
dan aku akan kembali bersama angin laut
Jangan sesali kepergianku
Dan jangan pula menunggu aku kembali
Karena tanpa kau sadari,
jutaan butiranku selalu menyelimutimu
Akulah pasir yang hangat ketika tenggelamnya mentari
Akulah pasir yang berbisik di tengah malam sunyi
Thursday, May 5, 2016
Saturday, April 16, 2016
Elemen

Air beriak tanda ada yang bergerak
Mungkin sesuatu telah bergetar
Riak air dapat dilihat tapi tak dirasa
Bisa dirasa apabila disentuh
Disentuh dengan indera yang peka
Awan bergerak tertiup angin
Membawa debu-debu dari setiap sudut
Debu yang kecil dan tak nampak
Bersatu dengan ribuan debu lainnya menjadi besar
Batu terkikis oleh air
Padahal dia keras namun kalah dengan air
Air begitu bersemangat dan pantang menyerah melawan batu
Dan batu hanya bisa diam
Dia kalah
Pepohonan tetap teguh
Tak peduli sekencang apapun angin
Dia tetap berdiri tegak
Memberikan oksigen
Memberikan kesejukan
Nyaman
Lalu, mau jadi apakah kamu?
Air?
Angin?
Batu?
Atau pepohonan?
Friday, March 25, 2016
Psycho
Kau pintar sekaligus cerdas
semua kejeniusan menjadi satu
Kau cerdik namun licik
Kini kau baik, sedetik bisa terbalik
Senyummu tidak bisa diartikan
Tatapanmu bisa jadi mematikan
Bicaramu pandai
menipu banyak orang dengan lihai
Perasamu hancur
manis pahit tak ada beda
Panas dingin sama saja
tak pernah sakit, mati jadi mustahil
Otakmu berjalan, tapi tidak dengan hati
Kamu senang lihat orang terluka
mereka menangis, kau malah tertawa
Berdusta bukanlah dosa
Membunuh, kau malah bahagia
Bertingkah dengan seenaknya
Kau anggap dirimu dewa
Tak sadar ditunggu neraka
Kobaran api telah membawa
dan kau akan terbakar selamanya
semua kejeniusan menjadi satu
Kau cerdik namun licik
Kini kau baik, sedetik bisa terbalik
Senyummu tidak bisa diartikan
Tatapanmu bisa jadi mematikan
Bicaramu pandai
menipu banyak orang dengan lihai
Perasamu hancur
manis pahit tak ada beda
Panas dingin sama saja
tak pernah sakit, mati jadi mustahil
Otakmu berjalan, tapi tidak dengan hati
Kamu senang lihat orang terluka
mereka menangis, kau malah tertawa
Berdusta bukanlah dosa
Membunuh, kau malah bahagia
Bertingkah dengan seenaknya
Kau anggap dirimu dewa
Tak sadar ditunggu neraka
Kobaran api telah membawa
dan kau akan terbakar selamanya
Subscribe to:
Posts (Atom)