Saturday, June 22, 2024

Hal-Hal Untuk (Tidak) Menjadi Mediocre

Sialnya, aku harus membahas hal ini lagi, karena ini adalah hal yang paling dicemaskan saat beranjak dewasa. Bosan aku mendengarnya.

Terakhir, di 2019, tulisanku bercerita bahwa aku cemas, menghadapi quarter life crisis. Sungguh klise. Saat itu aku baru menempuh usia awal dua puluh tahunan, sekarang usiaku hampir tiga puluh. Sudah cukup usia untuk memiliki pikiran yang bercabang hingga tumbuh tunas-tunas cemas yang baru.


Cemas itu masih berlangsung sampai detik kamu membaca tulisan.  Akan tetapi, aku tersadar bahwa terjebak dalam ruang kecemasan ini tidak berangsur membuatku lebih baik. Aku tersadar betul bahwa harus benar-benar keluar dari pasung besi yang terus menjerat dan membuatku gak kemana-mana, hilang arah.


-


Menghilang hampir empat tahun dari blog ini, banyak sekali hal yang terjadi. Tidak semuanya perlu diceritakan, karena akan terdengar melelahkan dan banyak kejutan. Aku yang dulu penuh ambisi, mengisi hari-hari dengan berbagai macam kegiatan, yang sebenernya hanya sebagai distraksi dari akar masalah. But, it works by the way, it makes me alive.


Tetapi, empat tahun ke belakang malah terlalu banyak distraksi sehingga ambisi itu tenggelam. Menjalani hari-hari biasa saja. Masih dikasih bernafas oleh Tuhan pun sudah syukur senangnya. Akibat cemas bertahun-tahun, jadi berpikir “Don’t be too busy thinking about the future but live in the present.”, tapi kalimat ini juga jadi tertanam menahun sampai aku merasa nyaman untuk jadi mediocre. Gak punya mimpi, gak punya cita-cita. Merasa gak apa menjadi mediocre, gak lebih dan gak kurang. Ya, menjalani hari-hari biasa saja.


Sampai ada masanya, teman-temanku menikah, punya anak, punya pekerjaan layak, dapat beasiswa, membangun rumah, dan adegan dewasa lainnya yang dimataku sangat amat terlihat fantastis. Beginikah kehidupan menjelang kepala tiga?


Kalau kamu berniat untuk menceramahi, “Life is not a competion, Al.” Iya, pikiran sehatku pun sering berkata itu sampai bosan. Lagi-lagi Si Mediocre ini malah cemas karena merasa biasa saja dan gak punya tujuan. Tolong, aku terjebak di lingkaran setan yang gak ada habisnya. 


-


Pernah merasa agak iritated dengan media sosial yang isinya adalah pencapaian-pencapaian orang lain. Terdengar gak punya empati dan gak suportif, ya? I do really happy for my friends but it’s kinda stressful. Dan akhirnya memutuskan untuk melakukan social media break.


Seminggu berlalu, aku rasa ini adalah sebuah kesalahan. Ada banyak false belief dalam benak dan jadi agak kesulitan untuk filterisasi mana hal yang lebih tepat untuk diyakini. Rasanya percuma berdiskusi dengan psikolog untuk mendapatkan sudut pandang baru tapi tidak betul-betul mengilhami dan memahami apa yang terjadi dalam diri. 


-


I think this is a wake up call. Kembali mengingat wejangan dari para psikolog yang pernah bantu meluruskan benang kusut: hal penting dari diri adalah bukan mengejar mimpi, melainkan menjalankan nilai-nilai personal yang sesuai dengan apa yang diyakini. Kemudian, merefleksikan kembali nilai apa yang selaras dengan melakukan riset dengan objektif: to reliving myself again.


The goals are destination, values are the journey.

The process is more important than the goal. 

The person you become an infinitely more valuable than whatever the result is.



-


Ternyata selama ini, aku sibuk menuliskan mimpi-mimpi, berharap apa yang dicita akan tercipta. Padahal tidak selalu, kemudian kecewa. Tanpa sadar, jadi sibuk pula membandingkan dengan mimpi dan pencapaian orang. Begitulah cemas terbentuk.


So, here I am, kembali menulis untuk melepaskan kecemasan, mencoba menjalani nilai-nilai dan menikmati semua proses sebagai perjalanan. Meski cemas nanti datang lagi, tapi mungkin nanti akan cepat terhempas. Dan mulai menanamkan pikiran “I’m making a progress in the present, for the destination awaits.


Lalu, apakah aku masih mau jadi mediocre

I think my true Leo energy isn’t suited for that character.

Friday, September 25, 2020

Kepingan Potong Rambut

Tiba-tiba, teringat akan sesuatu yang dulu sering dilakukan dan baru saja terjadi lagi, seakan mengulang memori dan ternyata masih sangat melekat erat hingga mengundang rindu. Mari mundur agak jauh, ketika aku masih berseragam putih biru.


-


Pagi di akhir pekan dengan riuh suara kartun favorit, dapur yang sibuk, dan bau detergen menyengat. Aku menunggu ayah agak santai, karena setiap Sabtu atau Minggu pagi, ayah selalu pergi ke pasar, beres-beres kebun, atau berkegiatan bapak-bapak lainnya. Padahal, beliau baru saja pulang dari ibukota malam sebelumnya. Setelah agenda paginya selesai, aku masuk ke agenda ayah yang selanjutnya: potong poni.

Dulu memiliki poni adalah keharusan, biar terlihat imut dan super cute ketika difoto atau ngobrol sama gebetan. Seperti hormon yang sedang bergejolak ketika masa pertumbuhan, begitu pula rambut yang terlalu cepat panjang. Gak asik dong, lagi siap-siap mau genit tapi mata kecolok poni. Jadwal potong poni bisa sampai sebulan sekali, bahkan dua minggu sekali. Aku juga dulu kebingungan, kenapa tumbuhnya cepet banget. Jadi ayah sudah ahli untuk memangkas poni yang sudah off-side ini, sisir dan gunting tersedia, tinggal tunggu aba-aba.

Dengan membawa kursi bakso, aku menunggu ayah di teras rumah dan poni siap untuk dieksekusi. Kadang jadi tegang dan cemas, takut poni kependekan atau ujung gunting gak sengaja kena mata, tapi kan bukan srimulat ya. Ayah selalu potong dengan hati-hati dan teliti. Gak sampai lima menit, pandanganku udah gak terhalang lagi dan hasilnya selalu rapi, semacam pakai cetakan baskom kalau kata orang. Sehabis itu, giliran aku yang bekerja untuk sapu sisa-sisa rambut di lantai.


-


Sekian waktu berlalu. Wajah ini gak perlu lagi poni untuk terlihat lucu, bahkan udah gak peduli model rambut apa yang sedang tren saat ini. Semenjak memilih jalan untuk berhijab, model bob pendek jadi juara. Siapa juga yang peduli? Sekalipun botak, gak akan ada yang lihat.

Beberapa waktu lalu, ada masanya rindu rambut panjang. Yang dikata orang hitam, panjang dan tebal bak model-model iklan shampoo di televisi. Semenjak itu, aku memutuskan kembali untuk membiarkan rambut ini tumbuh tanpa dipangkas, berharap masa kejayaan rambutku kembali seperti dulu. Sayangnya kondisi gak seprima zaman sekolah, usia bertambah, pikiran juga. Ditambah konsumsi obat yang menyebabkan rambut berguguran, memenuhi lantai dan berserakan setelah disisir. Rambut panjang jadi salah satu faktor, terlalu berat katanya. Terpaksa harus potong pendek lagi seperti beberapa tahun ke belakang.

Di saat krisis tanggal tua, pergi ke salon untuk sekadar potong rambut pun jadi perkara. Kebetulan ayah sedang di rumah, kemudian aku membuat permintaan yang sama saat dulu masih sekolah. Aku khawatir, apa beliau masih ingat cara memotong rambut anaknya? Dan ternyata, rasanya masih sama. Saat menempatkan posisi di kursi bakso dan terdengar suara gunting di sebelah telinga, banyak memori yang terpanggil. Aku merasa masih sangat belia yang merengek minta poninya digunting. Tegangnya masih sama, tapi sekarang lebih takut hasilnya gagal dan ujungnya harus tetap ke salon. Sekitar lima belas menit, operasi selesai dan setelahnya aku sapu bersih rambut-rambut yang habis digunting.

Meskipun dengan hasil seadanya, tapi ikatan itu masih erat. Kepingan kenangan sekitar sepuluh tahun lalu masih tertanam dan masih sangat jelas dibayangkan. Aku masih anak perempuan kecil ayah, yang masih banyak minta. Dan kejadian ini menimbulkan pertanyaan: akankah ketika aku dewasa, ayah akan berbuat sama?

Friday, May 24, 2019

Banyak Hal Yang (Seharusnya Gak Perlu) Dicemaskan

Apabila sebagian orang mengeluhkan tentang quarter life crisis, aku pun gak mau ketinggalan untuk ikut bersuara. Mungkin sedikit basi untuk dibahas tapi ini realitanya. Masih ada yang terjebak dan hilang arah di masa peralihan, dari remaja labil bau matahari menuju dewasa awal yang belum dewasa-dewasa amat.

Here I am, baru mau menginjak angka dua puluh tiga di tahun ini. Aku pikir masih cukup belia untuk haha hihi sana sini, ternyata belia-belia-engga bahkan gak belia sama sekali! Tapi aku masih bisa haha hihi kok, menertawakan hidup multigenre. Banyak drama, minim laga, tapi alhamdulilah ada sedikit bubuk-bubuk romansa yang menghibur. Tuhan memang Maha Membolak balikan keadaan umatNya, makanya hidup itu sebenarnya penuh komedi, bercanda aja terus. Maafin aku Ya Tuhan, aku bercanda. Berkepala dua itu pusing bukan main, dikira bisa hidup bebas berekspresi, melakukan segala sesuka hati, menjalani hari-hari produktif bagai muda berbahaya. Tidak semudah itu, kadang aku merasa sedang dalam bahaya. Seketika mengencangkan sabuk pengaman dan menggenggam erat, takut terpelanting karena roller coaster akan bersiap memutari relnya.

Hidup itu nano-nano, rame banget rasanya, apalagi setelah menjejaki kehidupan setelah kuliah. Saking ramenya jadi pusing, bingung, ini rasanya gimana, sih? Katakanlah senang, bisa bekerja, meniti karir sesuai cita-cita dan mencari penghasilan sendiri supaya tidak merasa bersalah ketika dihabiskan untuk foya-foya. Tapi sebenarnya adalah beban dipundak bertambah massa dengan mengekornya gelar sarjana, berusaha untuk mengamalkan ilmu selama empat tahun supaya gak jadi percuma. Karir pun jauh sekali dari apa yang diinginkan, sulit sekali untuk digapai. Semuanya bertolak belakang dengan harapan.

Apa kata orang nanti? Apa aku bisa sehebat orang lain? Apa yang aku cari selama ini? Kok rasanya gak sesuai? Perasaan cemas ini selalu melekat layaknya bayangan karena rencana gak selamanya mulus dan glowing, terutama di jam-jam kritis menjelang malam. Tiba-tiba merenung dan diserang pikiran-pikiran gak penting yang seharusnya gak ada di otak tapi malah terlintas, menetap, dan mengacak-acak. Rasanya semakin berat karena jauh dari orang tua, satu persatu teman mulai berpencar untuk mengawali hidup baru, dan orang-orang yang tampak bahagia di media sosial. AKU HARUS BAGAIMANAAA?

Ketika amarahku sedang bergejolak, hati yang kian hari kian kotor akibat iri dan dengki melihat orang masih bisa dengan mudahnya cerah sumringah, sedangkan aku terpuruk. Jadinya suka agak malas bermain media sosial, banyak orang sombong, padahal aku tahu mereka gak sebahagia seperti terlihatnya, sama saja. Aku agaknya terlihat menyedihkan tapi lebih condong menjijikan. Aku yang memilih jalanku untuk terlihat bagai terpuruk, padahal bisa saja aku masa bodoh dengan semua ini. Bukan masa bodoh dengan kehidupanku tapi masa bodoh dengan kehidupan orang lain. Sudah mencoba berkali-kali tapi tetap saja cemas, cemas, dan cemas.

Gak tahu bagaimana cara untuk menghilangkan cemas ini. Bisa sih, menyibukkan diri, mencari kegiatan seru, terutama yang menghasilkan cuan. Itu seru banget. Cemas bisa ditinggalkan, walau dia terkadang datang lagi, menepak pundak. Cemas ini ada karena kita belum terbiasa dan belum bisa beradaptasi dengan kondisi serta masalah baru yang menetapkan kita berada di ambang jurang. Sebenarnya ini pun gak perlu terlalu dicemaskan karena semua akan berlalu dengan sendirinya, meskipun penuh dengan tumpah keringat dan air mata deras. Yakin semua pasti berlalu, quarter life crisis akan berakhir dan digantikan dengan midlife crisis. HAHA. Bercanda. Tapi iya, kan? Duh, aku cemas lagi. Cemas ini wajar ketika peralihan, bahkan kalau gak cemas malah berbahaya bukan? Jadi, gak perlu lagi cemas ketika sedang cemas, tapi jangan berlebihan. Semua itu normal di masa peralihan.




Friday, December 28, 2018

Semua Orang Butuh Mengeluh

Mengeluh adalah musuh. Mengeluh harus dijauhi dari radius sepuluh meter. Mencium baunya saja sudah enggan, apalagi hidup bersama. Aku akan mati mengeluh karena sebuah keluhan.

Tidak untuk tahun 2018, aku bernafas dan jantungku berdetak merintih. Lelah letih jiwaku karena tidak pandai berkeluh kesah, kemudian di puncak emosi yang berfluktuasi, seorang sahabat berbisik, "Jika lelah, maka tunjukan lelahmu.", aku tertohok.

Dulu, anti dengan orang mengeluh karena beranggapan bahwa hal itu tidak keren, terdengar pesimis, penuh putus asa, dan tidak ada semangat hidup. Aku juga punya prinsp tidak boleh mengeluh, tidak boleh membuat orang lain repot mendengarkan cerita sedih dan frustasiku. Tapi, prinsip itu malah bikin jadi sok kuat dan ketika jatuh, jadi jatuh, sejatuh-jatuhnya, sampai ingin menghentikan denyut nadi. Memendam emosi ternyata bisa jadi bencana. Ya, memang sangat terlihat egois dan tidak jujur terhadap diri sendiri bahwa aku juga butuh mengeluh.

Pernah suatu hari, tergerak untuk ikut perkumpulan  baca dan membahas tentang cara mengikhlaskan. Katanya, "Apapun yang terjadi harus diberi selebrasi.", sepertinya aku salah mengartikan pernyataan. Di otak tertanam, "Aku harus positive thinking", "Semua pasti ada sisi baik", "Aku harus kuat", bukan mantra yang buruk, tapi seperti yang sudah aku bilang, pemikiranku sempit: aku jadi sok kuat, lupa bahwa aku manusia. Selebrasi bisa dalam bentuk apapun, bukan? Tidak hanya sebuah perayaan suka cita tapi juga menjamu diri supaya lebih tenang dan damai. Mengikhlaskan bahwa suatu hal memang harus terjadi.

Dengan resmi aku tetapkan tahun 2018 sebagai Tahun Mengeluh, karena sepanjang tahun ini, hariku penuh dengan ngomel, marah, dan berakhir dengan derai-derai air mata. Tidak hanya aku, teman-temanku juga begitu. Entah rasanya segala masalah sedang menghantam keras seperti meteor jatuh ke bumi, seolah aku siap ikut menjadi abu. Sampai sahabatku terheran, "Tumben kamu dari kemarin ngeluh melulu dan mau dengerin keluhan orang". Ya, aku sudah berdamai. Mengeluh itu tidak salah, kok. Aku anggap mengeluh sebagai selebrasi dari kekesalan, kelelahan, kebencian, kekecewaan, dan intinya adalah segala aura negatif yang membuat otak mau meledak dan dada penuh sesak. Aku mengikhlaskan diri untuk mengeluh.

Teruntuk teman-temanku yang selalu bilang, "Maaf aku mengeluh". Silakan rayakan keluh kesahmu, karena aku dan kamu butuh.

Tuesday, May 15, 2018

Sesal Sepanjang Kala

"Aku senang bisa lihat kamu gendut lagi, Nya. Sekarang malah aku yang sakit", ucap Dara tersenyum pucat lemas, dia tampak senang aku kunjungi. Dara, seorang sahabat gila, bahkan lebih, memiliki selera humor tinggi dan pintar berbahasa. Salah satu partner lari pagi di hari Minggu, makan bubur, dan main ke rumah untuk membuka situs chatting with strangers yang biasanya banyak bule kacau dan kami malah ngebodohin mereka.

"Makanya, jangan sakit! Kurus, sih, tapi kalau karena sakit mana enak. Pipi tembem kamu jadi ilang, tuh!", aku bercanda dan Dara masih saja tersenyum lemas. Tembok dingin di kamar Dara seolah mendukung kondisi kesehatan pemiliknya. Meja di sebelah tempat tidur dipenuhi botol dan plastik-plastik obat. Dara sibuk mengenalkan teman barunya satu persatu padaku.

"Waktu itu sakit bareng, ya. Syukurlah kamu udah sembuh lebih dulu. Aku masih begini aja, tambah parah", katanya. "Ngomong apa, sih, Dar? Kamu juga udah sembuh, udah keluar dari rumah sakit. Maklum lemas, butuh pemulihan", kataku menyemangati.

Aku pernah hampir dikira meninggal oleh banyak orang, Dara pun menyaksikan itu. Setelah setahun setelahnya, meskipun masih dalam pengobatan, aku sudah cukup kuat untuk naik turun seribu kali tangga sekolah karena sebelumnya duduk saja gak kuasa. Dara tiba-tiba jatuh sakit, aku pikir semacam rematik tapi hingga sekarang, aku gak paham apa yang berani menyerang sahabatku. Semenjak itu, Dara jadi sering berkisah dan konsultasi tentang hal yang dirasakan pada tubuhnya yang mini dan gempal. Kami terpaksa berpisah untuk mengejar mimpi yang berbeda dan jarang bertemu semenjak putih abu, kemudian di lanjut aku yang lebih memilih kota lain untuk kuliah. Jarang berkomunikasi, aku tidak sedikitpun tahu kondisi Dara jadi memburuk. Sejak itu, menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Dara selalu menjadi agenda. Dia memilih untuk gak lanjut kuliah karena bosan.

Memandang Dara kini tak seceria dulu meskipun masih berusaha melucu dan tetap berhasil. Kering dan pucat menyelimuti tubuh, memeluknya kini tersisa tulang, kapuk kasur yang tersimpan di dalam kulitnya habis dimakan patogen.

Matahari mulai membenamkan diri, begitu pula aku harus pamit pulang.
"Terima kasih banyak, Anya. Sering main kesini, ya, kalau libur kuliah", pesan bunda Dara, Tante Senny. Aku mengangguk, mengiyakan.





-





Kuliah memang sialan, waktu dikuras habis hanya untuk tugas yang gak ada henti. Jangankan untuk orang lain, kadang diri sendiri tidak diurus. Bersyukur masih diberi detak jantung. Selain orang tua, menghubungi Dara adalah wajib, bicara langsung atau sekadar menanya kabar melalui Tante Senny. Sesekali kami berteleponan dan saling tukar foto. Di tengah perkuliahan, jantung agak tersontak mendapat kabar Dara masuk rumah sakit lagi karena kondisi menurun. Masih bisa diajak bicara, tapi Dara sempat gak bisa mengetik dan diwakilkan oleh Tante Senny.

Lagi, lagi. Kuliah memang sialan. Aku terlalu memuja ujian semester. Saat sedang mengerjakan tugas, Dara menelepon namun ternyata Tante Senny, "Anya apa kabar? Dara kangen, ingin ngobrol katanya. Gak kuat ngetik dia".

"Baik tante, cuma pusing, nih. Anya lagi banyak tugas banget. Kejar untuk ujian, seminggu lagi selesai. Nanti Anya telepon balik, deh. Maaf ya, tan".

"Begitu, ya. Ya sudah, semangat, ya ujiannya. Semoga diberikan kelancaran. Nanti telepon, ya".

"Terima kasih banyak, tante. Salam untuk Dara!".





-





Ujian berakhir tapi belum sempat menghubungi Dara, ingin istirahat sebentar kemudian menelepon Dara dengan santai untuk mencurahkan kejengkelan ujian ini. Lelah melotot sampai larut, tidur dengan posisi tidak benar adalah hobi. Pukul dua dini hari, ponsel berbunyi, ada nomor telepon asing menghubungi. Aneh pikirku, siapa yang iseng telepon malam begini.

"Halo?", suaraku parau.

"Anya....", suara lebih parau jauh disana, ditambah isak tangis. Mendengar suaranya, aku kenal dan jadi gelisah.

"Dara meninggal."

"Dara? Dara mana? Siapa?", aku tidak percaya.

"Anya, tolong kabari teman-teman yang lain, ya.."











Innalillahi wainna ilaihi rajiun.




Telepon mati seraya waktu dan perasaan yang ikut mati sejenak. Pikiran kosong, jemari mulai membeku dan bulir-bulir air mata berjatuhan seirama dengan detak jantung yang tidak beraturan. Kacau, sungguh kacau.


Apakah ini nyata?

Tuhan, apakah kehilangan sebegini menyakitkan?

Aku lebih lama Engkau beri sakit, tapi kenapa Dara yang dipanggil lebih dulu?

Kenapa Engkau gak izinkan kamu untuk menemukan sembuh bersama?

Anya si Bodoh!

Kenapa tidak menelepon Dara lebih awal?

Kenapa lebih takut dengan ujian daripada kehilangan separuhmu sendiri?

Anya si Bodoh!


Aku kacau, emosiku gak terkontrol, sedang kotor.

Dara melabeliku sahabat tapi aku adalah sahabat yang menunda telepon hingga Tuhan gak beri kesempatan agar dapat bertukar suara untuk terakhir kali. Tanpa pikir panjang, aku pulang kampung menggunakan kendaraan umum paling pagi. Gak habis air mata terus mengalir selama tiga jam perjalanan. Panik, aku gak henti menghubungi bunda, "Bun, bilang Tante Senny, tolong almarhumah jangan dulu dikebumikan. Anya mau ketemu sekali lagi", bicaraku gak jelas. "Anya pokoknya datang dulu, ya, nak", kata bunda.

Anya ingin memeluk Dara sebelum beda dunia. Namun apa daya, aku datang berhadapan dengan nisan bertaburan kembang atas nama Dara Khalisya.


Dara, aku berubah menjadi puing-puing. Perasaanku berserakan, rasa bersalah, rasa kecewa.

Dara, aku tahu air mata malah membuatmu gak tenang tapi bagaimana lagi, Dara? Mereka gak mau berhenti.

Dara, andai bisa aku ulang waktu agar kita bisa bicara lagi di telepon dan aku dapat menemani sampai akhir hayatmu.

Dara, maafkan aku.

Saturday, December 23, 2017

Sisa Tujuh Nyawa

"I almost died twice yet God gives me nine lives"

Seperti kucing yang katanya memiliki sembilan nyawa, aku jadi berpikir demikian.
Pernyataan di atas adalah benar dan nyawaku bersisa tujuh.


Kalau ga salah sekitar enam tahun ke belakang, nyawa pertama direnggut. Di saat masih belia, aku di vonis hampir meninggal dunia, orang-orang berkunjung dengan derai air mata juga melafalkan doa. Pertama kali di diagnosa ketoasidosis, keton tinggi di dalam urin akibat gula darah tidak stabil dan sering hiperglikemia yang menganggu daya kerja otak sehingga akan mengakibatkan ketidaksadaran. Awalnya sempat mengigau tak jelas, meminta ayah untuk mengambilkan bola berwarna merah. Aku ingat sedang main di taman saat itu. Padahal hanya di dalam ruangan dan tangan terpasang insufan, kemudian hampir ga sadarkan diri lebih dari 24 jam. Aku benar-benar tidur, sebut saja koma. Pantas semua orang mengira aku akan meninggal. Beruntungnya, setelah melewati masa kritis, aku sadar kembali dan sudah berada di lain kamar, bahkan lain kota! Kalimat yang pertama aku ucapkan adalah "Ini dimana?", kamu kira dialog di TV itu template? Tidak! Aku serius! Kamu pun harus tahu, aku dibawa oleh ambulans tapi hingga sekarang, aku ga tahu gimana rasanya dan berisiknya sirine sepanjang perjalanan. Mungkin kamu bisa tanya ibuku, aku yakin dia paham betul.


-


Tepat setahun lalu, nyawa keduaku hilang dan terfatal dibanding yang pertama akibat seminggu sebelumnya tidak nafsu makan, mengejar deadline tugas menuju ujian akhir. Sekalinya makan hanya sebungkus roti dan secangkir latte untuk sehari, nasi terlihat sungguh menjijikan. Memang, kan, aku cari mati. Perih di lambung menjadi hobi setiap petang menjelang, obat maag selalu sedia menjadi perbekalan tapi tidak untuk malam itu, yang mungkin bisa jadi malam terakhir aku berkumpul dengan teman-teman. Pukul 10 malam, lambung perih begitu parah, obat habis, dan baru ingat jam 1 siang adalah terakhir mulut mengunyah. Pergilah aku mencari makan dengan yang lain, pesanan lama datang, si lambung sudah mengamuk. Seorang teman sibuk mencarikan obat, sampai dia tour dari warung ke warung, akhirnya ketemu! Sayangnya lambung ga lagi menerima obat yang biasanya ampuh. Mulut sudah sangat asam, mual sekali rasanya. Temanku mengantar pulang. Di rumah segala sendi sungguh lemas, aku pikir hanya masuk angin tapi setelah 2x muntah, "Aku tipes kali, ya?", pikirku. Menjelang subuh makin parah, pusing sampai berkunang-kunang, bahkan sempat aku berkata pada diri sendiri, "Kayanya aku bakal pingsan". Aku telepon kedua orang tua yang nun jauh disana, maaf aku bikin panik. Akhirnya pukul empat subuh, om dan tante membawaku ke IGD terdekat.

Dokter jaga memintaku untuk cek urin dan hasil mengatakan keton dalam urinku tinggi. Sial, aku mengulang hal yang sama tapi tak sempat berpikir akan ga sadarkan diri. Mungkin pada 24 Desember 2016, sekitar pukul 14.30 aku mulai benar-benar kehilangan kesadaran, mungkin itu bisa jadi terakhir kali jiwaku melekat pada raga, mungkin ini foto terakhirku bareng teman-teman malam itu, dan mungkin ini juga foto terakhir yang bisa aku upload ke chat group sehingga semuanya heboh dan membuat handphone penuh notifikasi.




Setelah itu, aku tidur lelap selama kurang lebih 30 jam. Anggap saja, aku sedang menjemput ajal atau ajal yang menjemputku. Kamu harus percaya, tidurku tidak pernah setenang itu. Berbeda dengan sebelumnya, aku tidak begitu menceracau tapi kata ibu, aku sempat beberapa kali berteriak menyebut nama seorang teman dan meminta mangkok. Mabok:))))
Lagi-lagi aku terbangun di tempat yang berbeda dengan mengenakan selembar kain biru khas rumah sakit, tertutup selimut, selang sekujur tubuh dan pampers. OMG I'm a huge baby.
Selang itu sungguh mengganggu! Infus kiri kanan, ada pula selang yang masuk melalui hidung menuju lambung dan sangat terasa di tenggorokan. Ugh!!!! Tidak lagi!!
Mata berat dan sekujur tubuh sangat lemas, nyawa baru naik satu bar tapi syukurnya bisa merespon teman-teman dan dosen yang menjenguk. Maaf ya merepotkan!
Suster di rumah sakit heboh melontarkan pertanyaan, "Gimana rasanya koma?" atau "Selama koma, mimpi yang aneh-aneh ga?", karena rumornya orang koma selalu 'dibawa'. Kadang aku menyayangkan "Kenapa ya aku ga mimpi? Harusnya mimpi!" Kayanya seru melakukan perjalanan astral. Serius, selama koma, aku hanya tidur.

Aku jadi yakin, mukjizat itu ada sampai aku dapat pulih kembali dan aku amat bersyukur, Tuhan meng-cancel  mandatnya kepada Grim Reaper untuk mencabut nyawaku sampai game over. Mungkin masih banyak tanggung jawab yang perlu aku selesaikan dan Tuhan masih ingin melihatku untuk berusaha lebih.


-



Teruntuk keluargaku, terutama ibu, perempuan hebat yang selalu aku repotkan. Maaf aku selalu begitu dan akan terus begitu. Adikku, Iyas, berondongku satu-satunya yang sekarang terlalu besar, aku senang kamu mulai mengkhawatirkanku. Ayahku, yang terlihat diam tapi ternyata paling panik.

Teruntuk teman-teman alabotkolej yang begitu gercep, aku paham kalian panik banget karena semalam sebelumnya kita lagi haha hihi bareng. Untuk Pala Bopengku, maaf aku ga sadar waktu kalian jenguk but I wuff u so much. Untuk Mail, yang sibuk cari obat dan sedia mengantarku pulang. Untuk Reno, yang kala itu perih lambung bareng tapi kamu licik malah pulang duluan. Untuk Gilang, yang ternyata kamu panik banget ya tahu aku colaps, but thanks!

Teruntuk teman-teman satuAction dan guruku, Pak Fasal yang rela jauh-jauh dateng. Terutama Yuda, my brother another mother, yang selalu temenin di rumah sakit meskipun aku lagi ga sadar dan bantu ibu untuk urus ini itu. Untuk Cacaku sayang yang katanya bombay banget ketika tahu aku masuk rumah sakit. Untuk Ansi, Esa, Ajeng, dan Arum yang nge-bom chat banyak banget dan telepon berjuta kali tapi maaf aku ga bisa angkat waktu itu.

Untuk seniorku, juniorku, dosenku, teman-teman media sosial, temannya temanku dan seluruh jiwa-jiwa malaikat yang aku sayangi.

Beribu maaf dariku karena telah amat merepotkan dan bikin heboh satu dunia, aku menjadi viral akibat tersebar luas foto menjelang ajal. Sampai orang-orang yang ga tahu sampai tahu aku exist dan hampir exit dari dunia. Berjuta terima kasih atas bingkisan, boneka, bunga, ucapan, terutama doa dan dukungannya. Tanpa semua itu, mungkin aku ga akan menjalani sisa tujuh nyawaku sekarang.

Aku akan menggunakan sisa tujuh nyawa ini dengan sebaik yang aku bisa.
Aku amat sayang kalian, sungguh!!

Thursday, August 10, 2017

Sesuai Ekspektasi

Sebelumnya..





"Kamu tahu kan aku punya komitmen? Aku gak bisa kasih janji dan gak bisa membuktikan apapun" Irgi mengaku.

Tepat 100% 100 poin untuk Anya. Bagus Irgi, lagipula aku paling benci dengan orang pengumbar janji. "Ya sudah, Gi. Setidaknya aku lega, gak ada lagi pro dan kontra di pikiran."

Kemudian Irgi meminta jangan main hati, sudah terlanjur aku bilang. Aku harap dia cukup mengerti maksud dari terlanjur ini. Seperti aku yang bisa menebaknya, Irgi tak kalah pandai menebak segala hal, apalagi seorang Anya. Dia sudah mengetahui tanda-tanda sejak pertama kali ada yang berbeda. Problematikanya adalah kami sama-sama tahu tapi memilih bungkam kurang lebih dalam setahun. Ajaib menurutku, bisa bertahan selama itu.

"Ngerasa gak, sih, Gi? Kamu itu melakukan hal yang gak biasa dan menurutmu itu biasa."

"Aku hanya berbuat sebagaimana teman." dia keukeuh.

Teman tidak berbuat seperti yang kamu lakukan. Kataku dalam hati. "Perempuan itu paling gak bisa diberi perhatian. Sekali dapat, langsung luluh." jelasku.

"Aku salah, ya, Nya?"

"Engga, kok. Selama itu bikin aku senang."

Kemudian kami bercerita tentang yang dulu, mengapa sampai hal ini bisa terjadi dan aku protes pada Irgi, mengapa tidak membicarakan keganjalan ini dari sejak lama. Jawabannya, "Bingung." Lalu aku bertanya, sebagai apa aku dimatanya. Irgi bilang, akulah yang terdekat dibanding yang lain, aku yang peduli, begitu juga dia. Dia pun sempat 'merasa' tapi tetap jawabannya, "Bingung."

"Irgi, kalau sudah besar nanti, kita bakal terus bareng gak?"

"Wallahualam", jawabnya singkat.

Hening menjadi jeda obrolan, seperti biasa kami diganggu kucing-kucing berkeliaran. Sesekali motor dan mobil lewat sebagai iklan. Aku yang masih menatap lurus ke depan dan dia yang terasa lebih hangat malam itu. Sembari dibanjur lampu jalan, aku menikmati malam yang amat panjang, bahkan berharap jangan cepat berakhir. Entah dengan dia, namun aku seperti itu.

"Senang gak?", tiba-tiba aku bertanya.

"Senang. Kamu senang?"

"Senang."

Yang sungguh membuatku merasa dewasa adalah ketika menghadapi masalah dan bagaimana menjawab masalah tersebut. Kami pikir kisah ini akan tamat seperti yang lalu-lalu, memutuskan untuk tidak lagi bertemu. Nyatanya, tidak ada yang mau berubah dan jangan sampai berpisah.

Wednesday, August 9, 2017

Selamat Hari Senin

Lho? Padahal sekarang Rabu.

Sudah telat dua hari tapi ga apa, Senin kemarin sangat berarti. Semua orang membenci Senin, aku juga. Tapi Senin yang satu ini begitu ditunggu karena aku menebak akan mendapat kejutan.

Ya, memang kejutan. Aku dikejutkan oleh kehidupan. Hidup yang tidak pernah dialami sebelumnya, sebuah pelajaran yang menampar dan membuka mata. Terasa benar aku menginjak tahap pendewasaan. Semua yang dijalani akhir-akhir ini melibatkan keputusan yang terbilang cukup sulit.

Menuju 21, aku dihadapkan ke dunia yang lebih nyata. Bekerja di a real company, tinggal sendiri dengan keterbatasan ekonomi. Meski hanya mahasiswa magang, aku merasa benar hidup seperti pekerja. Bermacet-macetan di pagi dan malam, duduk kurang lebih enam jam di depan layar komputer, panik di kejar deadline, lalu pulang ke kost tanpa mau lagi menyentuh kerjaan. Ini bagai mimpi, beberapa tahun lagi mungkin aku akan terus hidup di agensi.

Dua bulan sejak Juli berada di Jakarta, begitu melankolis, aku amat merasa sepi. Jarak selalu jadi pembatas, finansial selalu jadi korban. Untung teknologi sudah canggih, jauh pun terasa dekat, bisa chat dan free call yang sedikit mengobati. Terlalu sering merindu, kebersamaan jadi lebih dihargai. Berkumpul itu seru, aku ga mengerti dengan orang-orang yang tidak senang berkumpul.



Lalu protes sana-sini terdengar.
“Pulang, dong!”
“Kok ga pulang?”
“Pulang kapan?”

Aku cuma bisa balas: ga tau. Memang ga tau. Boleh saja kalau mau kasih uang jalan. Aku terima dengan senang hati.


Pernah suatu hari aku lelah bekerja, pusing karena terus di revisi. Keluar kantor, menggerutu. Ingin berkeluh kesah tapi sama siapa, kadang virtual itu menyebalkan. Lalu tak sengaja menengadah ke atas langit, ada satu planet yang amat terang, Saturnus. Terdiam sejenak, aku terharu. Kemudian berjalan lagi menuju gerbang, di langit menggantung cantik bulat sabit seperti sedang melengkungkan senyum. Seketika pecah, aku balas senyum dan berkaca-kaca. Semesta tidak mengizinkan aku bersedih, mereka bagai memberi tau bahwa aku tidak boleh mengeluh dan semua pasti memiliki hikmah.

Begitu pula dengan Senin kemarin. Mengulang tahun yang sama, tapi dengan cerita yang berbeda. Kali ini paling sepi karena jauh dari yang terkasih, tapi senang masih banyak yang ikut selebrasi. Dan lagi-lagi semesta memberi hadiah, sebuah gerhana. Tuhan mengingatkan bahwa aku tidak benar-benar sendiri.

Sungguh ulang tahun kali ini sangat mendewasakan. Meski usia bukan jadi patokan, tapi aku sadar kini sudah bukan lagi remaja.

Terima kasih Tuhan, ibu dan ayah, teman-teman yang memberi selamat dan menghadiahkan aku sebuah foto aib yang di unggah ke media sosial, dan kamu yang setidaknya telah membuat hari Senin tidak begitu menyebalkan.

Terima kasih karena telah masuk ke dalam cerita dan membentuk aku jadi dewasa.

Have a blast year!

Friday, August 4, 2017

Memprediksi

Irgi seketika bertingkah tidak biasa, mungkin pikirnya aku tidak paham tapi sebenarnya aku sangat mengerti. Tiba-tiba saja dia mengajak pergi, padahal biasanya selalu aku yang meminta lebih dulu.

Terhitung dua tahun kebelakang kami mulai cukup dekat. Bisa dibilang partner in crime. Aku yang sering cerita ini itu, dia yang selalu ikhlas mengantar pulang, Anya yang terus mencari kalau Irgi tidak ada, dan Irgi yang pernah beberapa kali menangis depan Anya. Kemudian satu tahun terakhir, sialnya, aku merasa ada hal yang tidak biasa yang menurutnya itu biasa. Sesuatu yang membuat tiba-tiba tersenyum, sesuatu yang hanya dengan melihatnya saja sudah membuat aku tenang.

Malam itu Irgi sangat milenial, terus tertawa sendiri menatap sesuatu yang katanya seru. Sesekali aku ajak bicara dan setelahnya hening kembali. Tidak bisakah layar itu dikesampingkan? Ada aku yang tidak virtual dan lebih nyata untuk diajak bicara.

Lalu Irgi bilang sulit tidur kemarin malam. Berani bertaruh, semalaman dia berpikir keras untuk malam itu. Setelah makan di warung emperan dekat pasar. Aku berlagak bertanya akan kemana setelah itu. “Ngobrol dulu”, katanya. Kemudian kami pergi dan  aku tidak menghabiskan makan malam dengan alasan kenyang, padahal kehilangan nafsu karena terlalu panik dengan apa yang akan terjadi malam itu. Aku tahu kemana arahnya.

Berjalan dengan angin malam, memilih tempat yang cocok untuk persinggahan. Jauh-jauh berputaran, akhirnya terpilih tempat nongkrong bapak-bapak komplek, tempat duduk yang cukup terang, di samping tembok sekolah dan langsung menghadap rumah. Saling bertukar cerita untuk meleburkan suasana, membangun frekuensi yang sama. Di antara suara-suara kucing komplek mengeong, terdeteksi tanda-tanda serius.

“Ga apa, kan, kalau bicara jujur?” Sumpah, pertama kalinya Irgi seserius ini. Kami duduk bersebelahan. Aku menatap lurus ke depan, sesekali terdistraksi oleh para kucing berkeliaran. Sedangkan dia terus menatapku. Demi apapun, aku malu.

“Anya, lihat sini dong”, protesnya. Aku menurut hanya beberapa detik, lalu kembali ke posisi awal. Aku tidak berani memandangnya terlalu lama, karena tatapannya terlalu menenangkan.

“Kenapa, sih? Lihat sini.”

“Malu, Gi. Kamu ngomong aja, aku denger kok.”

Jauh dari sebelum Irgi mengajak bertemu, aku sudah menyiapkan segala baik dan buruk, serta jawaban-jawaban yang akan keluar dari tuturnya. Benar saja, prediksi tidak meleset. Jadi selama ini aku sudah tahu jawaban dari semua pertanyaan tapi aku hanya belum yakin, hanya berani menebak karena Irgi adalah teka-teki. Lihat saja, mukanya seperti penuh teori.

Sunday, April 30, 2017

Dongeng Sebelum Tidur

Bersemayam dalam gelap, saling bergulat dan bertumpuk dengan buntalan kapuk. Menatap langit-langit dan jemari yang wajib bersentuhan. Bunyi detik menjadi wasit, menghitung berapa lama kami bertukar kisah. Momen terfavorit selama hidup, kecewa jika tak terlaksana. Usia sudah kepala dua tapi rasa tak bisa dusta, kembali seperti bocah saat jumpa ibunda. Beliau masih saja cerewet, menasehati berjuta kali dan memaparkan sifat baik dan burukku. Aku masih saja mengelak tapi kini mau mengaku salah.

"Dari kecil, kamu sudah terbiasa jarang dibantu..", aku mendengarkan. "...mulai dari ngerjain tugas, masuk sekolah, atau apa pun yang kamu kerjakan. Terbawa sampai sekarang, kamu jadi percaya diri."

Baru sadar akan pernyataan yang dituturnya adalah benar, aku ternyata seperti itu sedari dulu. Namun terkadang, terlalu percaya diri. Tidak mau dengar kalau ibu bilang tidak, malah berbuat sebaliknya. Memang begitu, aku harus terjun terlebih dulu ke lautan untuk merasakan dalamnya samudera. Sesekali harus lebih mendengar, katanya. Orang tua sudah berlayar lebih lama, daripada aku yang masih belia.

Tiada orang tua menginginkan hal buruk menghampiri buah hatinya. Sebagai harapan masa depan, aku harus menghargai setiap ucapannya. Karena hidup bukan hanya persoalan baik dan buruk tapi juga didengar dan mendengar.
Kemudian hening, hanya jarum jam yang berbicara. Ibu sudah terbenam dalam lelap dan aku hangat dalam dekap.

Selamat malam.


Wednesday, March 22, 2017

Sirna Sukmaku

Merefleksi atas pengakuan diri
Meraba yang tak kasat mata
Sesakku, direnggut
Sulitku bernalar

Merebah kepala, menatap angkasa
Ilusi gemerlap bintang terasa bersemuka
Lantas menghantam, ini bukan kartika yang kukira
Delusi membodohi, siuman dalam gelap

Diam adalah gegabah, melangkah takut lengah
Semua kini gulita, jutaan kedipan nihil perubahan

Jemari kaki menggelitik ayal butala
Melaju bagai siput malas berdaya
Gamang terkecoh oleh buana
Gamang terlahap oleh gelora

Kelak bersua dengan bayang,
namun lenyap diriku dalam ruang

Perlahan menipis
Rasa seakan meringis
Tak lagi bagai sedia kala
Upaya jadi percuma

Kembali kamu ikat ragaku
Merasuk ke dalam atma
Sentuh yang terlubuk
Hingga sukma tak kunjung sirna

Saturday, February 11, 2017

K E S E T

Coba biarkan otakmu berceracau, biarkan mereka bergelut dengan pemikirannya sendiri.

Apa yang pertama terlintas jika kamu mendengar kata 'keset'?
Terdengar seperti bukan bahasa Indonesia tapi memang begitu adanya dan umum diucapkan.

Kalau aku akan menjawab: welcome!

Sering ditemukan keset bertuliskan welcome di pintu masuk gedung apapun.
Begitu pula aku akan menyapa 'Welcome!' pada tahun ini.

"Selamat datang di kehidupan baru, Anda akan menghadapi hidup yang lebih nyata!!"

Sedetik hati bergetar dan otak sedikit mematung. Waktu yang terlalu cepat berlalu atau memang aku yang tidak merasa sudah saatnya bersikap lebih dewasa. Usia sudah berkepala dua tapi masih berlaku seperti anak baru pubertas: nonton kartun, nonton drama Korea yang membuat ingin punya pacar tapi setelah dipikir tidak mau pacaran untuk saat ini, fangirling, melakukan hal bodoh, banyak komentar, tertawa yang tampak tidak lucu tapi itu sebenarnya lucu! Orang lain saja yang tidak mengerti, level humor kita berbeda.

Kembali berpikir, "Ya Tuhan, aku sudah besar".

Memasuki semester enam di perkuliahan. Gila. Sumpah. Kaget. Tahun depan lulus. Rasanya baru kemaren sore di ospek senior lalu terpeleset dari meja dan jadi lelucon di tiga angkatan. Sekarang menertawakan junior sudah menjadi pekerjaan ketika suntuk. Tiga tahun terlewat begitu singkat, masa mudaku berlalu begitu cepat. Bahkan sudah dianggap terlalu tua oleh anak sekolah. Satu kata: Nikmati.

Tapi, kini sudah bukan saatnya untuk hanya menikmati, selain itu, pelajari.
Problem makes you tough. Pisau saja bisa tajam akibat ditempa, dipukul-pukul, dan diasah,
Sebilah besi bisa sangat berguna karena tangan manusia. Nah, manusia bisa berguna karena apa
Karena diri sendiri, ada kemauan, ada usaha, dan tak lupa berdoa. TanpaNya, kita hina.
Diri sendiri merupakan penyelamat pertama di dunia untuk pribadi.
Gimana? Bingung ya? Begitu pokoknya.

Yang menjadi masalah ketika memasuki tahun baru yang tampak begitu menyeramkan adalah degdegan, takut tidak bisa menghadapi mata kuliah yang semakin beringas. Maka muncul perasaan tidak nyaman, kemudian kehilangan percaya diri.
Ada satu quote bersabda: "Love yourself first, so you know what you deserve"
Sulit adalah mencintai diri sendiri. Padahal hal itu merupakan persoalan mendasar. Nyatanya, jika sudah mencintai diri kita apa adanya, kemudian mengetahui potensi yang dimiliki, maka everything is well. Mulai dari melakukan hobi atau mengerjakan sesuatu yang dulu sempat rutin lalu menghilang dan munculkan kembali! Siapa tahu bisa meredam rasa degdegan dan lebih percaya diri untuk menghadapi semester yang ganas ini,

Aku suka puisi, menulis sajak atau cerita, baca buku sastra, crafting, bermain warna, bahkan masak, dan ada beberapa hal yang sempat menghilang yaitu menjahit dan melukis. Ada yang masih sering dilakukan dan sedang mencoba kembali mengkatrol hobi-hobi lucuku yang dulu. Selain mengasah kemampuan untuk perbekalan bertarung, lagi lagi, siapa tahu bisa menjadi motivasi atau inspirasi di tahun ini. Semoga saja.

Kembali berpikir, "Ya Tuhan, aku bukan anak kecil lagi".

Berpikir lebih tenang dan dewasa karena sudah berada di tahap karakter yang sudah terbentuk, tinggal mencari jalan keluar, akan menjadi apa nanti dan apa cara terbaik untuk menjadi berguna. Ditambah sudah memasuki usia produktif, harus rajin ditempa dan diasah, seperti sepenggal kisah pisau di atas.

Senang rasanya bisa kembali berbagi setelah kemaren terbaring hampir mati.
Semoga semesterku dan semestermu menyenangkan.
Semoga degdeganku dan degdeganmu hilang.
Dan semoga no more worries!

So, keset!!

Sunday, January 1, 2017

Kamu di Penghujung Tahun

Meledak-ledak tapi singkat
Letupanmu berusaha mengacaukan setiap detak jantung
Percikanmu memecah ruah di angkasa dan membinar di mata

Kamu yang sekelebat indah lalu hilang entah kemana
Meninggalkan bau hangit, meracuni oksigen, dan bodoh kuhirup dengan mudahnya

Bila mendekat, aku terluka
Dan kamu tak bisa berbuat apa-apa
Karenanya, indahmu sulit kugapai
Hanya dapat aku kagumi dari jauh dan aku pandang dari balik jendela

Thursday, December 8, 2016

Astra Mantera

Demi petir menyambar bersama kilatnya
sekelebat cahaya dengan gemuruh menyentak
seraya jantung tergemap dan nadi tak pula gagap
gentar, gemetar

Frekuensi guncangan meningkat dalam sesaat
persendian tak lagi terasa melekat
pandangan seketika hitam pekat

Guntur menikam tepat di dada
sakit namun tak berluka
bukan dewa dengan sumpah
melainkan pengelana dengan mantera

Salahmu memesonaku
terpatung, aku membatu
bilamana sempat sembunyi
tunggang langgang aku berlari

Terlambat, aku terperangkap
nyatanya jadi terpana
matanya mengunci nurani
bebaskan rasa dari jeruji

Terpikat aku, menggunung ragu
petir tak pernah semanis itu
bahkan Gundala akan cepat berlalu

Mantera pengelana ampuh
kini aku yang bergemuruh







Tuesday, September 6, 2016

Akibat Panas Memendam Hujan

Puluhan musim dilalui. Memandang terik matahari dengan mata menyipit, bulir-bulir es menjadi primadona kala itu. Lalu badai tiba, hampir tak nampak matahari dalam sepekan, memakai sendal ke sekolah menjadi anjuran karena sepatu tak bosan terendam kubangan.

Bertahan atas peristiwa biasa, basah kering sudahlah wajar. Kemarau aku terbakar, hujan aku tenggelam. Namun aku terlatih, menyelematkan diri meski sempat gosong dan akhirnya dapat berhasil muncul ke permukaan. Sedikit percuma mencari bala bantuan, si penolong hanya menebar simpati, bukan empati.

Beribu hari membekam, tak biarkan orang tahu ada yang sekarat. Toh aib bukan untuk dipublikasikan.

Tak panas dan tak dingin, seperti negara ini yang beriklim tropis. Cuaca cerah dijadikan munajat.

Seketika kemarau panjang, betah berdiam diri tanpa basah setitik menjadikan percikan api yang membakar seisi hutan. Baranya yang merona, membuat api makin merajalela. Oksigen kini mahal, yang murah adalah asap dengan kandungan karbon mematikan. Hampir aku melepuh, sesak, dan perih. Tenang, ada tim medis otomatis dalam diri untuk penyelamatan tunggal.

Tak daya menahan, tak sampai sewaktu asap mengepul di udara. Uap air tampak sudah naik ke langit-langit, berhimpun dalam awan yang siap menuju kelabu, merangkai sebuah mendung dan sedia meruah dengan sebanyak-banyaknya.
Benar saja, hujan balas dendam kepada kemarau, badai berlangsung dengan riuh angin dan petir menggelegar. Dia tak mau kalah dahsyat.

Kini sungguh tenggelam, tak dapat berkutik, lupa bisa berenang, ragaku nyaris tinggal nama. Serius mencari tangan, andaikata ada yang tergetak segera menyelam.
Sadar mata terbelalak karena mulut dipaksa untuk meluapkan air dalam perut. Jantung berdegup, nadi berdetak, ada penyelamat.  Bilamana tak cari uluran, mungkin aku sudah menyentuh dasar dan tak akan kembali. Namun aku tetap hidup dan akan terus menjadi korban pergelutan antara panas dan hujan.

Sunday, August 7, 2016

tujuh agustusan

Bersamaan dengan bulan yang paling ditunggu di Indonesia, bulan yang menentukan hidup matinya negara kita, bulan yang banyak orang menanti sebuah kemerdekaan.
Merdeka atau mati.
Kalau aku: lahir atau meninggal, nafas atau engga, nangis atau engga, sehat atau engga, dan masih banyak atau lainnya.

Sepuluh hari sebelum hari kemerdekaan di tahun 1996, aku turun ke bumi dengan bantuan sang bidadari. Dua puluh tahun kemudian, bertepatan dengan hari ini. Alhamdulilah masih diberi waktu untuk bernafas. Yeay!
Kalau Indonesia 'tujuh belasan', kalau aku 'tujuh agustusan'.

Kepala dua, merasa tua. Padahal berlaku masih seperti remaja. Memasuki usia dewasa muda seharusnya pemikiran menjadi lebih kritis dan lebih panjang. Sudah tahu dan bisa membedakan mana baik atau buruk. Umur tidak menjadi patokan kedewasaan, melainkan etika berperilaku ketika dihadapi sebuah masalah. Macam orang tua saja nih aku berbicara. Hahahahaha.

Apa yang sudah aku lakukan dalam dua puluh tahun ini?
Tidak banyak. Sangat.
Masih ada jutaan hal yang aku ingin lakukan sebelum benar-benar tua nanti. People says 'life goals'.
Akupun punya target sendiri dan seiring berjalannya waktu, life goals tersebut pasti akan bertambah.

And here are my twenny top dreams: 

1. Sembuh,
2. Taat ibadah. Ga bolong-bolong kaya gigi anak kecil,
3. Good grade and good skill,
4. Win a scholarship,
5. Study abroad (Germany maybe?),
6. Umrah dan naik haji,
7. Masuk advertising dan dapat S.Ds lalu M.Ds,
8. Taman Nasional Baluran,
9. Sunrise di Gunung Bromo,
10. Melihat komodo secara langsung
11. Sunset bersama lumba-lumba di Pantai Lovina,
12. Liburan ke Pantai Derawan
13. Jadi copywriter di majalah atau apapun. Art director juga boleh!
14. Kerja di NatGeo atau stasiun TV,
15. Punya private room buat kerja, di dalamnya ada mini library,
16. Write and publish a book,
17. Bawa kendaraan sendiri,
18. Tahun baru di NYC atau London,
19. Perfect family and friends and............jangan dulu disebutkan,
20. Punya cafe yang menjual kopi dan menyuguhkan buku.






Ucapan temanku di hari ini: "Semoga semestaNya memberikan yang terbaik...."
Mari ucapkan amin bersama!

Sunday, July 17, 2016

Mendung Kala Itu

Sore sendu dengan awan gelap saling beradu, langit tak menampakkan birunya.
Kapas putih raksasa kian menyatu, berusaha untuk luapkan seluruh isinya.
Lalu mereka akhirnya jatuh ke bumi dengan malu, menyentuh tanah dan beton-beton ibukota.
Rintik-rintik jadi menyerbu. Rerumputan senang, kembali segar.
Koloni semut bersembunyi, mereka pikir sedang diserang.
Basah jalanan dibatas kaca. Terperangkap dalam pemandangan bulir-bulir air dibalik jendela.
Mereka berkejaran, berlomba memenangkan gravitasi, entah mana yang akan jadi juara.

Dan awan berhenti menangis.
Kini hujan tinggal genangan, merefleksikan langit yang masih kelabu.
Menyisakan romansa dingin menusuk tulang, menyerang otak hingga membeku.
Lalu semua keraguan datang mengusik, segalanya menjadi abu-abu.
Sama seperti suasana diluar sana, tidak hitam dan juga tidak putih.
Tidak berikan jawaban dan semuanya menjadi tabu.


Monday, July 4, 2016

Tak Sampai Dekade

Sekian lama jeda, ponsel usang ini menerima notifikasi dari seorang yang kini hampir tidak pernah muncul. Sekalinya muncul, diabaikan. Kini dia datang dengan lelucon khasnya. Ingin mencairkan suasana, pikirku. Sedikit timbulkan lengkungan di bibir, candaan dia tidak pernah luntur. Aga memang begitu. Dibalik candaan, ternyata dia bermaksud untuk meminta maaf lalu mengucapkan terima kasih. Karena semua sudah jelas, aku terima dengan baik dan membalas segala ucapannya.

Lalu dia bercerita..

"Kemarin aku cerita banyak dengan teman-temanku. Lucu, banyak yang berubah. Ternyata aku memang engga bisa dewasa karena memang watak dan aku engga akan jadi dewasa ketika bersama mereka. Aku pikir dulu yang akan selalu disisiku itu kamu, ternyata masih ada mereka."

Matanya terbuka, benakku berkata. "Laki-laki memang engga pernah lebih dewasa dari perempuan."

"Aku kira kehilangan kamu berarti kehilangan segalanya. Aku berlebihan. Sakit sebenarnya dan aku mati rasa akan apapun. But, I'm fine.", lanjutnya. "Tapi aku pikir memang kita ga cocok."

Dengan pernyataan yang terakhir Aga lontar, aku merasa dia benar-benar baru membuka matanya. Kemana saja selama ini? Kenapa baru sadar? Aku merasakan hal itu sejak pertama kali bersama. Selama lima tahun, tidak ada satu pun yang serupa.

"We are never ever getting back together, right?"

"Who knows." aku singkat.

"Aku tau karena aku sudah menyerah."

"And I'm enjoying my life."

"Aku rasa sudah cukup, aku bakal lanjutkan hidup. Terima kasih untuk tahun-tahun yang menakjubkan."

Dan percakapan berakhir.

Senang, tidak ada perselisihan dalam komunikasi kali ini. Mungkin dia mendapat beberapa wejangan dari temannya yang membuat pola pikirnya berubah dan dapat menerima semua kenyataan.
Dan aku memang menikmati hidup seperti ini. Bebas, tak terikat, tak ada beban, dan tak perlu lagi sulit menghitung berapa tahun lagi menuju satu dekade.



Wednesday, June 29, 2016

Balada Potong Rambut

Seorang temanku selalu memotong rambutnya jika hubungan percintaannya kandas. Buang sial, katanya. Lucu juga, meskipun tak logis. Bisa saja menjadi satu kepercayaan seseorang, aku tidak.

Dan suatu hari, aku memotong rambut. Ada teman menanyakan alasan mengapa rambutku dipotong. Aku jawab, "Buang sial.", bercanda. Sudah lama aku berniat untuk potong rambut dan ini adalah sebuah kebetulan. Aku tak bermaksud.

Banyak alasan mengapa rambut dipotong. Bisa jadi karena rambutnya rusak atau kasus yang paling sering terjadi adalah rambut bercabang, rambut rontok lalu dipotong agar terlihat lebih bervolume, dan faktor utama adalah bosan, ingin mencoba gaya rambut baru. Orang pun ingin berubah bukan? Berubah menjadi lebih baik, mencoba beda dari yang lain. Lalu kenapa sering disangkut-pautkan dengan 'buang sial'?

Profesor Antropologi Rutgers University, Helen Fisher berkata, "Potong rambut bagi wanita dianggap sebagai tahapan meminta tolong dan melakukan perubahan. Peralihan penampilan yang drastis ini dipercaya membuat wanita akan lebih diperhatikan, yang dapat mengalihkannya dari emosi negatif sesaat pascaputus,"

Dalam artian, aku memandang ritual potong rambut ini  menjadi pembelaan diri seseorang setelah putus, menganggap dirinya kuat tapi sebenarnya tidak. Karena pascaputus pasti ada sesuatu yang tertinggal dan harus ditinggalkan. Lalu kesedihan melanda, anak masa kini menyebutnya 'galau'. Maka dari itu, mereka butuh penopang agar tidak jatuh terlalu jauh. Namun dalam kasus ini, ada usaha untuk menyemangati diri. Seperti yang sudah aku bilang diatas, ingin berubah. Mencoba membuka lembaran baru, memulai cerita lain, dan membuang kisah lama. Kalau ini, sih, ada hubungannya dengan move on.

Mau dianggap buang sial atau bukan. Perubahan inilah yang aku mau, karena sudah banyak mindset yang berubah selama setahun terakhir dan aku nyaman dengan kondisi seperti ini. Banyak tantangan yang diambil, mencari atau menemukan hal yang baru, yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Jadi, potong rambut bukan lagi soal buang sial melainkan soal perubahan dari dalam diri.
Cheer up, gurls!





p.s: tolong jangan memvisualisasi bagaimana bentuk potongan rambutku :p

Monday, June 13, 2016

Ilusi di Musim Panas

Menuju musim panas dan yang ada dalam pikiran adalah berlibur. Membayangkan desiran angin yang berbau garam, deburan ombak, dan hamparan pasir yang luas. Sungguh nikmat disuguhi nyiur berbaris, dibanjur matahari, dan kopyor yang segarkan dahaga. Tertawa dan saling tukar cerita bersama sahabat sambil menikmati kudapan yang tak pernah habis.

BANG!  BANG!

Waktu berimajinasi sudah habis, saatnya hadapi realita dengan penderitaan tiada akhir. Libur hanyalah mitos, dongeng sebelum tidur yang selalu didambakan. Aku tahu kasur memiliki daya tarik magnet yang sangat kuat, sehingga kau terus tertarik dan tak bisa melawan medannya. Kau mengalah, tertidur, dan tidak produktif sepanjang hari.

TIDAK, TIDAK!

Buka mata dan bangun dari kasur. Cuci muka dan gerakkan badan. Buatlah harimu padat, setidaknya kau berguna untuk hidup di bumi ini. Tidur hanya akan membuatmu menjadi seonggok daging bodoh tak bermanfaat. Meskipun harus aku akui, tidur adalah hal ternikmat di bumi.

Beranjak dari kasur, keluar dari jeratan kamar yang terkutuk, bertemu sofa yang berdiri tegak dengan berjarak tiga meter depan televisi, ditemani meja kopi yang dipercantik dengan kaleng-kaleng makanan yang begitu menggoda. Kini aku tahu, ada hal nikmat lainnya setelah tidur yang menjadi peringkat teratas. Banyak orang berkata, harus rajin olahraga. Dan olahraga yang paling rajin dilakukan adalah olahraga jari dengan menggerakan sendi-sendinya, menekan remote telivisi untuk memindahkan siaran. Tapi olahraga yang satu ini tidak memberikan efek sehat, melainkan menimbulkan kemalasan yang hakiki serta penimbunan lemak-lemak di berbagai sisi, terutama pipi. Lagi, lagi, gagal menjadi produktif.

PLAK!

Butuh tamparan keras untuk sadar. Mei hingga September nanti, seharusnya liburan dimulai. Tapi hidup perkuliahan tidak seindah itu. Adanya sosok SEMESTER PENDEK (sebut dia espe) menjadi penghancur liburan yang sudah diidamkan. Juni hingga Agustus adalah waktu yang tepat untuk nikmati pantai.  Namun apa boleh buat, Si Espe ada agar semester depan yang lebih ringan untuk dihadapi. Sepertinya aku memang tidak diberi waktu untuk bernafas. Saatnya menangis, kawan.

Mencari berbagai kegiatan, agar terlihat produktif. Setelah dicari, berjuta kegiatan muncul. WOW. Akibat banyak, jadi kebingungan untuk mengatur. Positifnya adalah hari-hari tidak terbuang percuma dan banyak bertemu dengan orang baru, ditambah bisa berjumpa dengan tidur siang yang sempat hilang di semester empat kemarin. DOUBLE WOW. ASYIQUE.


Lalu kegiatan-kegiatan tersebut akan berlangsung hingga awal September. Di tengah September akan memasuki semester lima. Aduh, benar, aku tidak ada waktu bernafas. Banyak terimakasih untuk semua, semoga dapat menemukan hikmah dari momen-momen ini dan setidaknya aku tidak hanya menjadi seonggok daging bodoh tak bermanfaat.


ps: anggap saja sedang berlibur bersama ilmu pengetahuan. :")